Indonesia adalah negara dengan perekonomian terbesar di Asia Tenggara. Setelah sebelumnya dijajah oleh negara asing, Indonesia saat ini telah merdeka dan berusaha untuk menjadi negara maju. Namun dalam beberapa tahun terakhir, perekonomian Indonesia menurun. Sistem perpolitikan Indonesia pun tetap terkurung dan ditunggangi oleh kepentingan tertentu. Kekhawatiran akan radikalisasi dan intoleransi agama juga mulai berkembang, dan terorisme kembali datang. Hal ini membuat masyarakat bertanya-tanya, apakah kepercayaan mereka terhadap Jokowi sebelum pemilu adalah sebuah kesalahan.
Oleh: The Economist
Menyeberang di jalan sekitar dermaga di Ambon—ibu kota provinsi Maluku—harus dilakukan dengan hati-hati, cepat, dan berani. Trotoarnya dipenuhi dengan gerobak makanan, dan jalanannya dilintasi oleh banyaknya truk-truk, van mini, dan mobil. Sepeda motor pun menyalip dan bergerak dengan sangat cepat dan berbahaya, di antara kendaraan-kendaraan yang lebih besar. Jalur terdekat antara dua titik mungkin dapat ditempuh dengan satu jalan lurus, namun jalur teraman biasanya melalui jalan-jalan yang tidak rata, jalur belakang, dan gang-gang sempit.
Di salah satu sisi jalan terdapat Laut Banda, yang mengelilingi Pulau Maluku. Di sisi lain terdapat barisan gedung-gedung perdagangan, yang menjual berbagai barang-barang rumah tangga yang ada di berbagai warung pinggir jalan di Indonesia: kopi kemasan, teh, sampo dan mie instan, kartu SIM, rokok, dan minuman bersoda.
Namun dari salah satu pintu tercium aroma Natal. Di sebuah gudang besar berlantai beton, terdapat piramida setinggi pinggang yang berisi cengkeh, palet berisi pala, dan karung berisi rempah-rempah. Pedagang menimbang barang dagangan mereka dengan timbangan kuno. Satu-satunya tanda abad ke-21 adalah ponsel pintar mereka.
Empat abad yang lalu, rempah-rempah ini dibayar dengan menggunakan emas. Rempah-rempah adalah keajaiban yang membuat Belanda, Inggris, Spanyol, dan Portugal menghabiskan dua abad bertempur untuk menguasai perdagangan rempah-rempah. Belanda menang, dan Perusahaan Hindia Timur Belanda (VOC)—yang wilayahnya kemudian menjadi wilayah Hindia Timur Belanda pertama, dan saat ini menjadi wilayah Indonesia—mendapatkan kekayaan karena monopoli perdagangan rempah-rempahnya. Namun pada akhirnya, pasar rempah-rempah tersebut runtuh setelah VOC kalah dalam monopolinya.
Ketika rempah-rempah menjadi kurang menguntungkan, para penjajah Belanda beralih ke komoditas lain. Mereka menambang timah dan batu bara, mengembangkan ladang minyak, dan menciptakan lahan besar untuk menumbuhkan tembakau, cokelat, kopi, karet, teh, gula, dan nila. Setelah memperoleh kemerdekaan pada tahun 1945, Indonesia mempertahankan ekonomi berdasarkan komoditas.
Dalam sejarah modern Indonesia, uang tumbuh dari pohon-pohon, timbul dari dasar laut, dan berasal dari tambang. Saat ini, Indonesia adalah negara dengan perekonomian terbesar di Asia Tenggara, baik dari segi populasi (255 juta jiwa), dan ukuran perekonomiannya. Indonesia menghasilkan sebagian besar minyak kelapa sawit di dunia, juga banyak memproduksi karet, cokelat, kopi, emas, dan batu bara. Komoditas mencakup 60 persen dari nilai ekspor Indonesia. Ketika dunia membeli komoditasnya, Indonesia semakin makmur: PDB-nya, baik secara keseluruhan maupun per kapita, tumbuh dengan stabil selama akhir abad ke-20 (kecuali saat krisis keuangan Asia tahun 1997-1998), dan pada abad ke-21, karena keserakahan China.
Namun dalam beberapa tahun terakhir, karena keinginan China telah menyusut dan harga komoditas merosot, Indonesia harus berjuang. Antara tahun 2010 dan 2014, pertumbuhan ekonomi keseluruhan Indonesia menurun dari 6.2 persen menjadi 5 persen. Karena pertumbuhan ekonominya yang menurun, sudah jelas bahwa Indonesia gagal untuk menginvestasikan infrastruktur dan pendidikan yang cukup.
Sistem perpolitikan Indonesia tetap terkurung dan ditunggangi oleh kepentingan tertentu. Jakarta—yang merupakan ibu kota dan kota terbesar di Indonesia—penuh sesak, dan penduduk di pulau Jawa semakin kaya, yang membuat jutaan masyarakat yang hidup di ujung timur merasa bahwa mereka tinggal di—seperti istilah yang digunakan oleh seorang pendeta Ambon—wilayah “Indonesia yang terlupakan”. Pada tahun 2004, dengan banyaknya keriuhan, Susilo Bambang Yudhoyono menjadi Presiden Indonesia pertama yang dpilih secara langsung; pada tahun 2014 ia mengakhiri masa jabatannya.
Penerusnya, Joko Widodo (atau yang dikenal dengan nama Jokowi), berbeda dengan presiden-presiden Indonesia sebelumnya. Ia tidak berasal dari elit di Jakarta, dan tidak pernah tergabung dengan militer atau Parlemen. Anak laki-laki tertua dari sebuah keluarga miskin di kota Solo tersebut, mendapatkan reputasi atas pragmatismenya dan—yang membuatnya paling menarik—adalah pemerintahan yang bersih, ketika ia menjabat sebagai Wali Kota Solo dan kemudian sebagai Gubernur Jakarta.
Masyarakat Indonesia mendukungnya karena Jokowi juga berasal dari rakyat, dan telah menunjukkan keinginan dan kemampuannya untuk memberantas korupsi di Indonesia. Komunitas bisnis lokal juga berbahagia atas kemenangannya, karena Jokowi juga sama seperti mereka: sebelum terjun ke dunia politik, Jokowi adalah pengekspor mebel, sehingga memahami bagaimana rasanya terhambat oleh birokrasi Indonesia. Para investor asing juga senang karena Jokowi menyambut mereka, dan berharap bahwa Jokowi dapat mengurangi proteksionisme di Indonesia.
Jokowi berjanji untuk mengembalikan pertumbuhan Indonesia menjadi 7 persen, dan berjanji staf kabinetnya akan diisi oleh para teknokrat dan bukannya antek-antek partai. Ia menyadari bahwa era pertumbuhan yang berdasarkan pada komoditas telah usai. Ia mengatakan bahwa ia ingin menarik layanan dan manufaktur bernilai tinggi, dan menyadari bahwa hal itu membutuhkan investasi infrastruktur yang besar dan iklim bisnis yang lebih baik. Dalam Peringkat Kemudahan Berbisnis Bank Dunia, sayangnya Indonesia berada di peringkat ke-109 dari 189 negara.
Jokowi melakukan permulaan dengan tegas, dengan memangkas subsidi bahan bakar setelah menjabat selama tiga bulan. Namun, sejak saat itu antusiasme yang menyambut kemenangannya dalam pemilu telah menyusut. Ia berjanji lebih banyak daripada yang telah ia lakukan sejauh ini. Tidak hanya pertumbuhan yang gagal untuk meningkat, justru pertumbuhan semakin melambat: sebuah perkiraan menunjukkan bahwa PDB tahun lalu meningkat hanya sebesar 4.8 persen, yang merupakan angka terendah sejak tahun 2009.
Mengenai investasi infrastruktur, hanya sedikit yang berhasil. Petunjuk kebijakan yang membingungkan dan kekalahan partainya, telah membuatnya lemah. Kebijakan luar negerinya pada awalnya terlihat sangat kuat: ia meledakkan kapal-kapal nelayan negara tetangganya, dan mengeksekusi mati para pengedar narkoba asing.
Kekhawatiran akan radikalisasi dan intoleransi agama berkembang. Dan setelah tujuh tahun penuh ketenangan, terorisme kembali terjadi di Jakarta pada bulan Januari: dimana para militan menyerang pusat kota, dan menewaskan empat orang penduduk sipil. Banyak yang bertanya-tanya apakah kepercayaan mereka terhadap Jokowi sebelum pemilu adalah sebuah kesalahan.
Laporan ini menunjukkan bahwa kepercayaan mereka tidaklah salah. Namun dalam masa jabatannya, Jokowi berjuang untuk menemukan kembali tujuan awal yang membuatnya mencalonkan diri sebagai kandidat presiden. Gaya kepemimpinan Jokowi yang malu-malu, menyebabkan kebingungan; liberalisasi ekonomi melemah; dan ia menunjukkan lebih sedikit ketertarikan dari yang diperkirakan terhadap kepentingan pribadi. Ia berjanji kepada para pendukungnya, bahwa ia akan mengubah sistem yang ada.
Indonesia dan Masa Kepemimpinan Presiden Joko Widodo
Berita Tentang Indonesia Inggris, Jokowi, Politik Indonesia["https://www.matamatapolitik.com/analisis-pemilu-di-indonesia-kekurangan-pilihan/","https://www.matamatapolitik.com/news-indonesia-ancam-keluar-dari-kesepakatan-iklim-paris-sehubungan-minyak-sawit/","https://www.matamatapolitik.com/analisis-bagaimana-mengatasi-kesenjangan-gender-di-indonesia/","https://www.matamatapolitik.com/news-pilpres-2019-di-tengah-klaim-peretasan-asing-dan-daftar-pemilih-hantu/","https://www.matamatapolitik.com/indonesia-panggil-dubes-australia-atas-pernyataan-fraser-anning/","https://www.matamatapolitik.com/news-jelang-pilpres-2019-dilema-jokowi-atas-penindasan-muslim-uighur-china/","https://www.matamatapolitik.com/banjir-bandang-tewaskan-setidaknya-50-orang-di-papua/","https://www.matamatapolitik.com/pilpres-2019-di-maluku-para-pemilih-indonesia-merasa-dikecewakan/","https://www.matamatapolitik.com/news-walhi-ajukan-banding-atas-putusan-pembangunan-bendungan-di-habitat-orangutan/","https://www.matamatapolitik.com/news-masyarakat-jakarta-uji-coba-mrt-seperti-naik-kereta-di-luar-negeri/","https://www.matamatapolitik.com/in-depth-pilpres-2019-facebook-dan-twitter-jadi-medan-tempur-buzzer-politik/","https://www.matamatapolitik.com/15-orang-dikhawatirkan-tewas-dalam-pertempuran-tni-dengan-separatis-papua/","https://www.matamatapolitik.com/opini-rencana-pemberian-gaji-pengangguran-bisa-jadi-bumerang-bagi-jokowi/","https://www.matamatapolitik.com/berbahaya-militer-akan-lanjutkan-penyelesaian-jalan-trans-papua/","https://www.matamatapolitik.com/news-dicambuk-hingga-tak-bisa-berjalan-setelah-razia-hotel-di-aceh/","https://www.matamatapolitik.com/indonesia-gratiskan-tarif-impor-palestina-untuk-kurma-dan-zaitun/","https://www.matamatapolitik.com/news-erick-tohir-peringatkan-tentang-berita-palsu-dan-pemilih-ragu-ragu/","https://www.matamatapolitik.com/news-tambang-emas-ilegal-sulawesi-di-runtuh-sejumlah-orang-jadi-korban/","https://www.matamatapolitik.com/jawa-barat-tindak-pop-asing-dewasa/","https://www.matamatapolitik.com/news-jokowi-janji-naikkan-dana-desa-rp400-triliun-jika-terpilih-kembali/","https://www.matamatapolitik.com/news-china-dan-indonesia-dipastikan-akan-bentrok-atas-laut-china-selatan/","https://www.matamatapolitik.com/analisis-pilpres-dan-perang-dagang-hantui-pasar-indonesia/","https://www.matamatapolitik.com/in-depth-di-era-jokowi-kelas-menengah-jadi-pemenang-pertumbuhan-ekonomi/","https://www.matamatapolitik.com/news-jokowi-dan-prabowo-janjikan-swasembada-energi-melalui-kelapa-sawit/","https://www.matamatapolitik.com/news-restrukturisasi-picu-protes-di-lembaga-penelitian-terbesar-di-indonesia/","https://www.matamatapolitik.com/news-indonesia-pertahankan-minyak-sawit-setelah-uni-eropa-berencana-kurangi-penggunaannya-pada-2030/","https://www.matamatapolitik.com/kenapa-pertamina-turunkan-harga-bbm/","https://www.matamatapolitik.com/news-menguasai-kembali-lautan-indonesia/","https://www.matamatapolitik.com/news-pembangunan-jalan-raya-papua-renggut-hak-tanah-penduduk-dan-gusur-hutan-hujan/","https://www.matamatapolitik.com/ruu-permusikan-indonesia-berusaha-blokir-pengaruh-asing-pada-musik/","https://www.matamatapolitik.com/in-depth-kampanye-terbuka-pilpres-2019-jokowi-dan-prabowo-bagaikan-superstar/","https://www.matamatapolitik.com/polling-in-depth-seruan-baju-putih-jokowi-pertanda-kubu-01-tak-sabar-dan-takut-kalah/","https://www.matamatapolitik.com/polling-news-baju-putih-jokowi-adalah-lambang-kesederhanaan-dan-simbol-hijrah/","https://www.matamatapolitik.com/analisis-pilpres-2019-makin-dekat-peluang-jokowi-semakin-cerah/","https://www.matamatapolitik.com/news-kehebohan-peluncuran-mrt-dipolitisasi-jelang-pilpres-2019/","https://www.matamatapolitik.com/news-sandi-bertaruh-100-juta-demi-lengsernya-jokowi/","https://www.matamatapolitik.com/news-mrt-jakarta-diresmikan-upaya-selesaikan-kusut-masai-lalu-lintas-ibu-kota/","https://www.matamatapolitik.com/analisis-pilpres-2019-mempertanyakan-aliansi-prabowo-dengan-kelompok-islamis/","https://www.matamatapolitik.com/news-jelang-pilpres-2019-keterampilan-kerja-anak-muda-jadi-perhatian-utama/","https://www.matamatapolitik.com/analisis-cita-cita-poros-maritim-jokowi-masih-terhambat/","https://www.matamatapolitik.com/analisis-fakta-atau-fiksi-ancaman-china-bayangi-pilpres-2019/","https://www.matamatapolitik.com/listicle-pilpres-deja-vu-di-indonesia-8-hal-penting-yang-perlu-diketahui/","https://www.matamatapolitik.com/analisis-3-pengamatan-politik-identitas-dan-peran-islam-dalam-pilpres-2019/","https://www.matamatapolitik.com/analisis-pilpres-2019-saat-saat-menentukan-dalam-demokrasi-indonesia/","https://www.matamatapolitik.com/news-jelang-pilpres-jokowi-masih-kesulitan-turunkan-biaya-hidup/","https://www.matamatapolitik.com/opini-pilpres-2019-dan-artinya-bagi-hubungan-indonesia-amerika/","https://www.matamatapolitik.com/news-termasuk-wagub-termuda-emil-dardak-bukan-pemula-politik/","https://www.matamatapolitik.com/polling-news-penuhi-tugas-negara-jokowi-tak-perlu-cuti-penuh-saat-kampanye/","https://www.matamatapolitik.com/polling-news-agar-tak-salahgunakan-jabatan-jokowi-harus-cuti-selama-kampanye/","https://www.matamatapolitik.com/analisis-pentingnya-hasil-pilpres-indonesia-bagi-amerika/","https://www.matamatapolitik.com/in-depth-pilpres-2019-mengenal-lebih-dekat-dua-kandidat-dan-para-cawapresnya/","https://www.matamatapolitik.com/opini-rencana-pemberian-gaji-pengangguran-bisa-jadi-bumerang-bagi-jokowi/","https://www.matamatapolitik.com/polling-news-kartu-sakti-jokowi-bebani-apbn-tak-efektif-sejahterakan-rakyat/","https://www.matamatapolitik.com/polling-news-kartu-sakti-jokowi-jadi-bukti-kehadiran-negara-untuk-rakyat/","https://www.matamatapolitik.com/indepth-penagih-pinjaman-online-p2p-indonesia-picu-peminjam-untuk-bunuh-diri/","https://www.matamatapolitik.com/opini-indonesia-di-persimpangan-politik/","https://www.matamatapolitik.com/kelompok-islam-terbesar-di-indonesia-minta-penggunaan-kata-kafir-diakhiri/","https://www.matamatapolitik.com/analisis-morrison-dan-jokowi-tak-hadiri-perjanjian-dagang-australia-indonesia/","https://www.matamatapolitik.com/survei-jokowi-dalam-perjalanan-menuju-kemenangan-pilpres-2019/","https://www.matamatapolitik.com/opini-bisakah-prabowo-balikkan-jajak-pendapat-dan-menangkan-pilpres-2019/","https://www.matamatapolitik.com/news-jumlah-caleg-perempuan-capai-rekor-tapi-tantangan-besar-menghadang/","https://www.matamatapolitik.com/news-termasuk-wagub-termuda-emil-dardak-bukan-pemula-politik/","https://www.matamatapolitik.com/opini-hari-wanita-sedunia-perjuangan-panjang-perempuan-dalam-politik-indonesia/","https://www.matamatapolitik.com/in-depth-militer-kembali-merayap-masuk-ke-politik-indonesia/","https://www.matamatapolitik.com/opini-indonesia-di-persimpangan-politik/","https://www.matamatapolitik.com/in-depth-pilpres-makin-dekat-posisi-golkar-makin-terancam/","https://www.matamatapolitik.com/opini-bangkitnya-kembali-politik-identitas-terhadap-etnis-tionghoa-di-indonesia/","https://www.matamatapolitik.com/news-jokowi-dan-prabowo-berselisih-mengenai-masalah-ekonomi-di-debat-pilpres-kedua/","https://www.matamatapolitik.com/news-jokowi-dan-prabowo-janjikan-swasembada-energi-melalui-kelapa-sawit/","https://www.matamatapolitik.com/pilpres-2019-terjadi-terduga-ledakan-di-dekat-lokasi-debat-capres-kedua/","https://www.matamatapolitik.com/news-kembali-terjun-ke-dunia-politik-ahok-resmi-gabung-pdip/","https://www.matamatapolitik.com/opini-bisakah-golput-selamatkan-demokrasi-indonesia/","https://www.matamatapolitik.com/pilpres-2019-prabowo-tiru-pemangkasan-pajak-ala-trump-untuk-dongkrak-ekonomi/","https://www.matamatapolitik.com/polling-dildoforindonesia-oase-di-tengah-teriknya-tahun-politik-indonesia/","https://www.matamatapolitik.com/laga-pilpres-2019-prabowo-dekati-etnis-tionghoa-jokowi-manfaatkan-kebencian-pada-prabowo/","https://www.matamatapolitik.com/analisis-spektrum-politik-indonesia-benarkah-semua-parpol-sama-saja/","https://www.matamatapolitik.com/opini-mencari-dosa-anies/","https://www.matamatapolitik.com/opini-2019-pertempuran-hidup-mati/","https://www.matamatapolitik.com/analisis-perubahan-sistem-demokrasi-indonesia-akankah-partai-partai-kecil-mati/","https://www.matamatapolitik.com/opini-hajar-prabowo-ada-apa-dengan-tgb/","https://www.matamatapolitik.com/pemilu-indonesia-secara-bersamaan-bisa-matikan-partai-partai-kecil/","https://www.matamatapolitik.com/opini-gak-kompromi-sikat/","https://www.matamatapolitik.com/bagaimana-milenial-melihat-politik-dan-pemilu-di-indonesia/","https://www.matamatapolitik.com/polling-peran-generasi-milenial-dalam-menentukan-kemenangan-di-pilpres-2019-2/","https://www.matamatapolitik.com/di-tengah-berbagai-krisis-perikanan-indonesia-bisa-jadi-cahaya-dalam-kegelapan/","https://www.matamatapolitik.com/polling-tak-bermartabat-dan-tak-mendidik-kampanye-negatif-tak-perlu-dilakukan/","https://www.matamatapolitik.com/analisis-seberapa-korupnya-politik-indonesia/","https://www.matamatapolitik.com/bencana-alam-bisa-runtuhkan-demokrasi-indonesia/","https://www.matamatapolitik.com/kampanye-prabowo-serang-pertemuan-imf-di-tengah-bencana-indonesia/","https://www.matamatapolitik.com/kampanye-pilpres-2019-dimulai-apa-harapannya/"]
Source
No comments:
Post a Comment