Saturday, March 30, 2019

(PDF) Coattail Effect Pada Ajang Pemilihan Umum Presiden 2019

- 80 -

Islam calon wakil presiden dengan menunjuk Kiai

Ma’ruf Amin sebagai calonnya. Sedang Prabowo

memilih Sandiaga Uno pengusaha muda sebagai calon

wakil presiden. Persaingan sengit siap digelar, dan

dipastikan akan berdampak pada elektabiltas partai

politik pengusung pada masing-masing kandidat.

Dengan kata lain partai pengusung akan mendapat

imbas suara akibat Coaail eect dukungan kepada

calon yang dipilih oleh rakyat.

Coaail eect adalah istilah yang merujuk pada

suatu tindakan yang menimbulkan pengaruh pada

tindakan lain (pengaruh ikutan). Dalam terjemahan

bebas diartikan sebagai efek kibasan buntut jas. Calon

pemimpin yang diusung memiliki efek buntut jas

terhadap elektabilitas suara pada partai pengusung

nantinya. Karena pemilihan presiden bersamaan

dengan pemilihan anggota legislatif, maka tentunya

pilihan rakyat terhadap pasangan capres

dan cawapres tidak jauh dari calon

anggota dewan dari partai

pengusungnya. Hal ini tentu berakibat

pada sinergitas antara eksekutif terpilih

dengan anggota dewan di parlemen

nantinya (Haris, 2015: 22). Dengan

demikian, akan tercipta koordinasi

pemerintahan yang baik dan sinergis

antara eksekutif dan legislatif karena

kesamaan asal partai keduanya.

Efek ekor jas dapat dimaknai sebagai

pengaruh gur dalam meningkatkan

suara partai di pemilu. Figur tersebut

berasal dari capres ataupun cawapres yang diusung.

Di Indonesia, efek ekor jas pernah mengalami

kesuksesan besar. Misalnya, terjadi pada 2004 dan 2009

dengan gur Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Partai

Demokrat yang baru berdiri 2001 tiba-tiba memperoleh

suara signikan pada Pemilu 2004. Bahkan pada 2009

menjadi pemenang pemilu. Rupanya, ketokohan SBY

turut mempengaruhi tingkat perolehan Partai Demokrat

di dua pemilu tersebut. Publik memilih Demokrat

karena partai tersebut identik dengan gur SBY yang

saat itu merupakan presiden dengan tingkat

elektabilitas dan kepuasan publik yang tinggi. Hal sama

terjadi pada Pemilu 2014, Partai PDIP menikmati efek

ekor jas dari gur Joko Widodo (Jokowi). Bahkan, kini

saat elektabilitas dan tingkat kepuasan publik terhadap

Jokowi terus meningkat, tingkat keterpilihan PDIP pun

semakin meroket dalam sejumlah hasil survei terakhir.

Kompetisi dalam perhelatan akbar pemilihan

presiden 2019 tentunya tidak kalah seru, dan efek

coaail pun sudah menjadi prediksi yang dipikirkan

jauh-jauh hari oleh para partai pengusung. Dengan

mendukung Jokowi atau Prabowo diharapkan partai-

partai politik tersebut mendapat insentif elektoral.

Minimal perolehan suara partai tidak menurun

dibanding pemilu sebelumnya. Tidak heran jika di

pinggir jalan tol atau perempatan jalan sering dijumpai

baliho yang menunjukkan wajah ketua umum partai

disandingkan dengan capres tertentu. Tak hanya itu,

kerja politik mengais efek ekor jas juga terlihat ketika

partai-partai pendukung capres berlomba-lomba

menyorongkan cawapres. Dengan kadernya menjadi

cawapres Jokowi atau Prabowo mereka berharap

insentif elektoral mampu didapatkan secara maksimal.[]

Pustaka Acuan:

* Penulis adalah Sekjen Pusat Studi Konstitusi dan Leg-

islasi Nasional (Poskolegnas) UIN Jakarta.

Haris, Syamsuddin, dkk., Pemilu Nasional Serentak

2019, Jakarta: Electoral Research Institute – Lembaga

Ilmu Pengetahuan Indonesia, 2015.

Rajab, Achmadudin. “Batas Pencalonan Presiden Dalam

UU No. 7 Tahun 2017 Tentang Pemilihan Umum,” da-

lam Jurnal RechtsVinding, Media Pembinaan

Hukum Nasional, (2017)

Subhi, Ahmad Farhan, "Pengusulan Pasangan Calon

Presiden dan Wakil Presiden Sebagai Peserta Pemilu

Menurut Undang-Undang Pilpres", dalam Jurnal Cita

Hukum, Vol. 3 No. 2 (2015).DOI: 10.15408/

jch.v2i2.2324.

‘Adalah; Buletin Hukum dan Keadilan merupakan berkala ilmiah yang diterbitkan oleh Pusat Studi Konstitusi dan Legislasi Nasional

(POSKO-LEGNAS), Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Penasehat: Prof. Dr. H. Abdul Ghani Abdullah, SH., Prof. Dr. H. A Salman Maggalatung, SH., MH. Pemimpin Redaktur: Indra

Rahmatullah, Tim Redaktur: Nurrohim Yunus, Fathuddin, Mara Sutan Rambe, Muhammad Ishar Helmi, Erwin Hikmatiar. Penyunting:

Latipah, Siti Nurhalimah. Setting & Layout: Siti Romlah



Source

No comments:

Post a Comment